Minggu, 30 Maret 2014

lalalalal=,=

Terkadang saya bingung, kami terlahir dan tumbuh dewasa  dengan potensi kami, bebas berpendapat, bebas bercita-cita. Melihat banyak anak-anak lain yang telah berada di titik dimana mereka benar-benar merasa kalau dia adalah dia.

Ketika saya ditanya, “apa cita-cita kau?”, dengan percaya diri saya menjawab “aku ingin menjadi seorang Arsitek”. Dengan begitu saya harus memperdalam pelajaran yang pada dasarnya sangat sulit untuk masuk ke otak saya, yaitu Fisika dan Matematika. Setelah beberapa kali berbicara tentang kesulitan itu ke beberapa orang, jawabannya sama, “sukai dulu pelajarannya, kamu akan mudah untuk mengerti pelajarannya”. Dengan cara belajar saya yang visual, saya memperhatikan apa yang dijelaskan guru dan mencatatnya dengan rapi, karena dengan catatan yang rapi akan membuat saya nyaman untuk mengulang kembali. Saya juga bisa masuk kedalam tipe belajar audio, mendengar. Merangkum pelajaran adalah cara saya untuk mengulang materi, disambili dengan mendengarkan lagu-lagu favorit, membuat saya enjoy belajar dengan alunan musik yang terdengar. Atau, mungkin semua teman kelas saya sudah tahu banget kebiasaan saya saat belajar di kelas. Jika pelajaran itu saya rasa enak, posisi duduk saya selalu berubah, dan terkadang sambil iseng mengerjakan sesuatu yang tidak penting, seperti potong-potong penghapus. Dan jika pelajaran itu bukan hal yang saya suka, saya lebih suka menaruh kepala di atas tangan yang dilipat di atas meja, sambil corat-coret di buku pelajaran. Sedikit menundukkan kepala, dan teman-teman pasti tahu apa yang saya lakukan. Yakk, tidur. Tapi anehnya suara-suara di kelas saat itu masuk ke dalam tidur saya.

Mungkin orang-orang merasa aneh melihat saya begitu menyukai rumus-rumus, seperti matematika. Itu karena banyak hal yang telah saya lewati. Dari pengalaman di bangku kelas 4 SD, hadiah yang diberikan orang tua jika nilai saya bagus, komik, karena saya suka banget itu, dan karena adanya tekanan. Umi saya adalah guru matematika, dan beliau pernah ngomong “malu-maluin dong, masa uminya guru matematika anaknya gak bisa matematika. Umi ngajarin anak orang, masa anak sendiri enggak bisa..” mulai dari situ saya berpikir, “berarti saya harus bisa itu agar tidak malu-maluin umi dong”. Saya tidak “menghapal” semua rumus matematika dan fisika dari A - Z, saya hanya ngertiin “caranya” saja. Itu simple. Kata salah satu guru SMP saya, “rumus itu gak harus dihapal, tapi dimengerti”. Kalau diperdalam, iya ya, matematika gak kejam kok. Mengerjakan Matematika itu menantang. Menantang kesabaran.

Yakk, saya memasuki lingkungan putih-abuabu yang mempunyai dua jalur. IPA or IPS?
IPA, yang saya takuti adalah Biologi. Demi Allah. Karena hanya Biologi yang menggunakan teori full. Selain itu saya juga tidak yakin dengan Kimia.
Masuk IPS? HAHA! Mau nyari mati? Bisa kicep seribu kata nanti. Saya kurang bisa dalam berkata, bersosial. Ya, saya rasakan itu. Dan saya akui, saya pendiam. Yang saya lihat, kakak dan adik-adik saya tidak pendiam, alias banyak ngomong, karena dari kecil hanya saya yang di cap “anak pendiam dan pemalu”, itu saya sadari setelah saya mempelajari ini di sosiologi. Karena cap “pendiam” itu jauh lebih lama, maka banyak kata-kata motivasi dan pendorong yang tidak bisa saya percayai. Terutama “kamu berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin”. Logicanya, mana ada pemimpin pendiam dan pemalu?  Dan mungkin itu yang membuat saya merasa malas untuk bergerak maju.
Ada hal aneh saat baru mengenal SMA. Terutama di SMA saya. Awal masuk, saat pelajaran Sosial, saya merasa enjoy, karena langsung turun ke lapangan, alias melihat lingkungan sekitar. Seperti halnya seorang anak kecil yang baru menemui dunia baru, sepulang dari sekolah saya berbicara kepada umi, “aku ingin masuk IPS. Seru..” tapi umi berkata lain. Saya diarahkan untuk masuk IPA, selain bisa masuk ke fakultas apapun, untuk mengajar privat atau bimbel, guru IPA diperlukan. Mungkin di sisi ini beliau ingin saya menjadi seorang guru sambil kuliah nanti. Lalu pada suatu hari, saat menonton sebuah acara debat di tv, beliau berbicara lagi, bahwa beliau ingin saya menjadi seorang politikus. Bagaimana bisa? Disuruh masuk IPA tapi disuruh jadi politikus juga? Dilain waktu juga, beliau ingin saya menjadi seorang dokter, untuk mengobati orang-orang yang tidak mampu. Oke saya terima, itu adalah pekerjaan yang mulia. Tapi kembali ke topik sebelumnya, bahwa saya takut dengan Biologi, sedangkan dokter sangat lekat dengan Biologi. Mau banting tulang atau bantik otak?
Terkadang saya merasakan tekanan, selalu dipandang bermasalah dalam bersosialisasi oleh orang tua. Saya sendiri kurang terbuka dengan orang tua. Yang orang tua saya tahu saya adalah seorang yang pendiam dan pemalu. Yak saya merasa begitu. Saya terlalu takut membuat mereka kecewa. Menjawab “tidak” pasti dimarahi, menjawab “ya” pada nyatanya tidak sesuai dengan hati. Selalu berhati-hati dalam berkata, saya rasa diam lebih baik. Karena saya sering mengalami ini. Saya berkata datar, disangka marah atau jutek, dan orang tua memarahi saya. Berbicara seperlunya. Orang tua saya sendiri lebih focus kepada adik-adik.
Setiap aura umi yang selalu ingin marah-marah, saya selalu merasa ingin sekolah terus. Tidak ingin pulang. Disekolah walau pelajaran yang sulit namun saya bisa mencari hiburan dengan bermain dengan teman. Dihari libur selalu ingin cepat-cepat masuk sekolah, gak mau libur kalau begitu caranya. Terkadang dalam keadaan sakitpun saya akan paksakan untuk masuk sekolah. Tidak memikirkan apa yang akan saya rasa di sekolah nantinya. Namun kalau suasana rumah sedang membuat saya nyaman, umi yang perhatian kepada anak-anak, abi yang selalu membimbing kami, kakak yang menyayangi adik-adiknya, adik yang menghormati kakak-kakaknya, saya merasa berada di surga dunia. Waktu-waktu langka dalam hidup. Membuat saya enggan dan malas untuk berangkat sekolah. Bahkan saya ingin membuat saya sakit agar saya bisa berada dirumah. Seenak apapun keadaan kelas, teman-teman yang baik, guru-guru yang dengan senang hati selalu mengajari kami, namun keadaan keluarga yang baik membuat saya tidak ingin bergerak dari keluarga.

Dibalik sifat pemalu saya, saya menimpan banyak kenakalan. Kelas 2 SD, saya pernah kabur dari sekolah bersama teman-teman. Kelas 4 SD, punya geng di kelas yang sering bolos sholat ashar di masjid. Kelas 6 SD, tryout pertama kerja sama dengan teman. Saya tidak mencontek dengan teman, namun saya memberikan jawaban lewat isyarat tangan. Suka ilang-ilangan karena sering main ke rumah temen. Kelas 7 SMP, memasuki lingkungan biru-putih, saya memiliki geng lagi. Memberikan contekan kepada teman, dan meminta contekan dari teman. Parahnya itu terjadi sampai kelas 8, bersama orang yang sama. 2 kali ketahun oleh guru MTK saya memberikan contekan. Bahkan saat ujian kenaikan kelas, saya sempat memberikan contekan yang diselipin didalam rautan yang ingin dipinjam teman. Wahh kacau lah saya. kenaikan kelas membuat saya taubat. Tidak ada kata contek-mencontek. Jujur nomor satu dalam ujian. Lebih baik nilai jelek tapi murni dari otak, daripada nilai bagus tapi hasil dari orang lain. Dan memasuki SMA, saya ingin lebih baik lagi. Dikelas 8, pertama kalinya bersama 2 teman bermain ke Jakarta. Yang kedua kalinya bersama 4 teman pergi ke acara Festival Palestine di TIM, Jakarta. Awal debut dunia SMA menapaki kota Jakarta lagi bersama seorang teman untuk ikut aksi # SaveEgypt. Itulah mengapa saya dibilang diam-diam menghanyutkan..

Saya juga berpikir, kenapa kita harus mempelajari banyak pelajaran kalau tujuannya hanya 1?

Kini saya semakin bingung untuk menentukan cita-cita.
Ingin menjadi arsitek,
Ingin menjadi teknikal,
Ingin menjadi programmer,
Ingin menjadi animator,
Ingin menjadi guru,
Ingin menjadi perakit bom,

Saya rasa banyak yang ingin saya lakukan di dunia ini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar