Terkadang saya bingung, kami terlahir dan tumbuh
dewasa dengan potensi kami, bebas
berpendapat, bebas bercita-cita. Melihat banyak anak-anak lain yang telah
berada di titik dimana mereka benar-benar merasa kalau dia adalah dia.
Ketika saya ditanya, “apa cita-cita kau?”, dengan
percaya diri saya menjawab “aku ingin menjadi seorang Arsitek”. Dengan begitu
saya harus memperdalam pelajaran yang pada dasarnya sangat sulit untuk masuk ke
otak saya, yaitu Fisika dan Matematika. Setelah beberapa kali berbicara tentang
kesulitan itu ke beberapa orang, jawabannya sama, “sukai dulu pelajarannya,
kamu akan mudah untuk mengerti pelajarannya”. Dengan cara belajar saya yang
visual, saya memperhatikan apa yang dijelaskan guru dan mencatatnya dengan
rapi, karena dengan catatan yang rapi akan membuat saya nyaman untuk mengulang
kembali. Saya juga bisa masuk kedalam tipe belajar audio, mendengar. Merangkum
pelajaran adalah cara saya untuk mengulang materi, disambili dengan
mendengarkan lagu-lagu favorit, membuat saya enjoy belajar dengan alunan musik
yang terdengar. Atau, mungkin semua teman kelas saya sudah tahu banget
kebiasaan saya saat belajar di kelas. Jika pelajaran itu saya rasa enak, posisi
duduk saya selalu berubah, dan terkadang sambil iseng mengerjakan sesuatu yang
tidak penting, seperti potong-potong penghapus. Dan jika pelajaran itu bukan
hal yang saya suka, saya lebih suka menaruh kepala di atas tangan yang dilipat
di atas meja, sambil corat-coret di buku pelajaran. Sedikit menundukkan kepala,
dan teman-teman pasti tahu apa yang saya lakukan. Yakk, tidur. Tapi anehnya
suara-suara di kelas saat itu masuk ke dalam tidur saya.
Mungkin orang-orang merasa aneh melihat saya
begitu menyukai rumus-rumus, seperti matematika. Itu karena banyak hal yang
telah saya lewati. Dari pengalaman di bangku kelas 4 SD, hadiah yang diberikan
orang tua jika nilai saya bagus, komik, karena saya suka banget itu, dan karena
adanya tekanan. Umi saya adalah guru matematika, dan beliau pernah ngomong
“malu-maluin dong, masa uminya guru matematika anaknya gak bisa matematika. Umi
ngajarin anak orang, masa anak sendiri enggak bisa..” mulai dari situ saya
berpikir, “berarti saya harus bisa itu agar tidak malu-maluin umi dong”. Saya
tidak “menghapal” semua rumus matematika dan fisika dari A - Z, saya hanya
ngertiin “caranya” saja. Itu simple. Kata salah satu guru SMP saya, “rumus itu
gak harus dihapal, tapi dimengerti”. Kalau diperdalam, iya ya, matematika gak
kejam kok. Mengerjakan Matematika itu menantang. Menantang kesabaran.
Yakk, saya memasuki lingkungan putih-abuabu yang
mempunyai dua jalur. IPA or IPS?
IPA, yang saya takuti adalah Biologi. Demi Allah.
Karena hanya Biologi yang menggunakan teori full. Selain itu saya juga tidak
yakin dengan Kimia.
Masuk IPS? HAHA! Mau nyari mati? Bisa kicep seribu
kata nanti. Saya kurang bisa dalam berkata, bersosial. Ya, saya rasakan itu.
Dan saya akui, saya pendiam. Yang saya lihat, kakak dan adik-adik saya tidak
pendiam, alias banyak ngomong, karena dari kecil hanya saya yang di cap “anak
pendiam dan pemalu”, itu saya sadari setelah saya mempelajari ini di sosiologi.
Karena cap “pendiam” itu jauh lebih lama, maka banyak kata-kata motivasi dan
pendorong yang tidak bisa saya percayai. Terutama “kamu berpotensi untuk
menjadi seorang pemimpin”. Logicanya, mana ada pemimpin pendiam dan
pemalu? Dan mungkin itu yang membuat
saya merasa malas untuk bergerak maju.
Ada hal aneh saat baru mengenal SMA. Terutama di
SMA saya. Awal masuk, saat pelajaran Sosial, saya merasa enjoy, karena langsung
turun ke lapangan, alias melihat lingkungan sekitar. Seperti halnya seorang
anak kecil yang baru menemui dunia baru, sepulang dari sekolah saya berbicara
kepada umi, “aku ingin masuk IPS. Seru..” tapi umi berkata lain. Saya diarahkan
untuk masuk IPA, selain bisa masuk ke fakultas apapun, untuk mengajar privat
atau bimbel, guru IPA diperlukan. Mungkin di sisi ini beliau ingin saya menjadi
seorang guru sambil kuliah nanti. Lalu pada suatu hari, saat menonton sebuah
acara debat di tv, beliau berbicara lagi, bahwa beliau ingin saya menjadi
seorang politikus. Bagaimana bisa? Disuruh masuk IPA tapi disuruh jadi
politikus juga? Dilain waktu juga, beliau ingin saya menjadi seorang dokter,
untuk mengobati orang-orang yang tidak mampu. Oke saya terima, itu adalah
pekerjaan yang mulia. Tapi kembali ke topik sebelumnya, bahwa saya takut dengan
Biologi, sedangkan dokter sangat lekat dengan Biologi. Mau banting tulang atau
bantik otak?
Terkadang saya merasakan tekanan, selalu dipandang
bermasalah dalam bersosialisasi oleh orang tua. Saya sendiri kurang terbuka
dengan orang tua. Yang orang tua saya tahu saya adalah seorang yang pendiam dan
pemalu. Yak saya merasa begitu. Saya terlalu takut membuat mereka kecewa.
Menjawab “tidak” pasti dimarahi, menjawab “ya” pada nyatanya tidak sesuai
dengan hati. Selalu berhati-hati dalam berkata, saya rasa diam lebih baik. Karena
saya sering mengalami ini. Saya berkata datar, disangka marah atau jutek, dan
orang tua memarahi saya. Berbicara seperlunya. Orang tua saya sendiri lebih
focus kepada adik-adik.
Setiap aura umi yang selalu ingin marah-marah,
saya selalu merasa ingin sekolah terus. Tidak ingin pulang. Disekolah walau
pelajaran yang sulit namun saya bisa mencari hiburan dengan bermain dengan
teman. Dihari libur selalu ingin cepat-cepat masuk sekolah, gak mau libur kalau
begitu caranya. Terkadang dalam keadaan sakitpun saya akan paksakan untuk masuk
sekolah. Tidak memikirkan apa yang akan saya rasa di sekolah nantinya. Namun kalau
suasana rumah sedang membuat saya nyaman, umi yang perhatian kepada anak-anak,
abi yang selalu membimbing kami, kakak yang menyayangi adik-adiknya, adik yang
menghormati kakak-kakaknya, saya merasa berada di surga dunia. Waktu-waktu
langka dalam hidup. Membuat saya enggan dan malas untuk berangkat sekolah. Bahkan
saya ingin membuat saya sakit agar saya bisa berada dirumah. Seenak apapun
keadaan kelas, teman-teman yang baik, guru-guru yang dengan senang hati selalu
mengajari kami, namun keadaan keluarga yang baik membuat saya tidak ingin
bergerak dari keluarga.
Dibalik sifat pemalu saya, saya menimpan banyak
kenakalan. Kelas 2 SD, saya pernah kabur dari sekolah bersama teman-teman.
Kelas 4 SD, punya geng di kelas yang sering bolos sholat ashar di masjid. Kelas
6 SD, tryout pertama kerja sama dengan teman. Saya tidak mencontek dengan
teman, namun saya memberikan jawaban lewat isyarat tangan. Suka ilang-ilangan karena
sering main ke rumah temen. Kelas 7 SMP, memasuki lingkungan biru-putih, saya
memiliki geng lagi. Memberikan contekan kepada teman, dan meminta contekan dari
teman. Parahnya itu terjadi sampai kelas 8, bersama orang yang sama. 2 kali
ketahun oleh guru MTK saya memberikan contekan. Bahkan saat ujian kenaikan
kelas, saya sempat memberikan contekan yang diselipin didalam rautan yang ingin
dipinjam teman. Wahh kacau lah saya. kenaikan kelas membuat saya taubat. Tidak
ada kata contek-mencontek. Jujur nomor satu dalam ujian. Lebih baik nilai jelek
tapi murni dari otak, daripada nilai bagus tapi hasil dari orang lain. Dan
memasuki SMA, saya ingin lebih baik lagi. Dikelas 8, pertama kalinya bersama 2
teman bermain ke Jakarta. Yang kedua kalinya bersama 4 teman pergi ke acara
Festival Palestine di TIM, Jakarta. Awal debut dunia SMA menapaki kota Jakarta
lagi bersama seorang teman untuk ikut aksi # SaveEgypt. Itulah mengapa saya
dibilang diam-diam menghanyutkan..
Saya juga berpikir, kenapa kita harus mempelajari
banyak pelajaran kalau tujuannya hanya 1?
Kini saya semakin bingung untuk menentukan
cita-cita.
Ingin menjadi arsitek,
Ingin menjadi teknikal,
Ingin menjadi programmer,
Ingin menjadi animator,
Ingin menjadi guru,
Ingin menjadi perakit bom,
Saya rasa banyak yang ingin saya lakukan di dunia
ini..