Kamis, 12 Februari 2015

UNO!!!

Saya rasa semua orang kurang suka dibeda-bedain, juga kurang suka disama-samain. Terutama dengan saudara kandung, dan teman.Terus harus bagaimana? Ya sudahlah, semua orang punya selera kehidupan yang berbeda. Semua orang punya cara yang berbeda.

Saya rasa saya kurang suka dengan yang berlebihan.
Berlebihan dalam gaya hidup, makanan, tujuan, bahkan saat selebrasi.
Berlebihan bagi saya terlalu berlebihan.
Selebrasi yang kita lakukan mencerminkan bagaimana kita untuk mencapainya, dan bagaimana setelah kita mencapainya. Benar ga? Itusih argumen saya. Ntah bagaimana dengan orang-orang cerdas di luar sana.

Hidup semakin modern, tapi modernisasi tidak terlalu menarik bagi saya.
Bagi saya itu juga berlebihan.
Lihat saja, betapa banyaknya waktu yang habis hanya untuk menatap layar-layar yang bahkan bisa merusak.
Betapa bisanya modernisasi mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat.
Semua seperti terhipnotis, modernisasi seperti mengandung nikotin yang efeknya akan ketagihan bagi siapapun yang menggunakannya.
Hahahaaha!
Betapa terbayangnya jika saya selalu menghabiskan waktu berharga hanya untuk 'menatap'.
Bukankah 'menatap' juga memiliki maksud positif? Misal menatap bacaan buku, bahkan menatap masa depan. Tapi ngapain juga kalau hanya menatap!? Yang jauh lebih penting dari menatap itu sendiri adalah 'melangkah', bukan?
Lalu apa saya sudah 'melangkah' ? Bagaimana dengan langkah yang akan anda ambil?

Dunia ini memiliki sisi kaku, tapi jangan lupa dengan humor.
Betapa terbayangnya dunia ini sangat-sangat  kaku. Formal. Semua tertata secara teratur. Mungkin rasanya hanya 1. Yaitu hambar.
Coba kita bumbui dengan humor-humor mulai dari yang ringan. Mungkin akan tercipta beberapa rasa baru, seperti asam, manis, bahkan pahit.
Tapi daya humor setiap orang berbeda. Terkadang inilah yang menyebabkan perselisihan, karena humor yang terlalu berlebihan, sehingga tidak sedikit yang merasa tersinggung. Ingat! Setiap orang memiliki daya humor yang berbeda.
Orang dalam bidang kimia jangan disamakan dengan orang dalam bidang ekonomi. Bahkan bidang matematika dan fisika sekalipun yang hakikatnya adalah sesama bermain rumus, mereka juga berbeda.
Namun tidak untuk dibedakan selalu. Karena kemampuan setiap orang memang berbeda.
Tanpa paksaan.
Tanpa maksud diskriminasi.

Minggu, 30 Maret 2014

lalalalal=,=

Terkadang saya bingung, kami terlahir dan tumbuh dewasa  dengan potensi kami, bebas berpendapat, bebas bercita-cita. Melihat banyak anak-anak lain yang telah berada di titik dimana mereka benar-benar merasa kalau dia adalah dia.

Ketika saya ditanya, “apa cita-cita kau?”, dengan percaya diri saya menjawab “aku ingin menjadi seorang Arsitek”. Dengan begitu saya harus memperdalam pelajaran yang pada dasarnya sangat sulit untuk masuk ke otak saya, yaitu Fisika dan Matematika. Setelah beberapa kali berbicara tentang kesulitan itu ke beberapa orang, jawabannya sama, “sukai dulu pelajarannya, kamu akan mudah untuk mengerti pelajarannya”. Dengan cara belajar saya yang visual, saya memperhatikan apa yang dijelaskan guru dan mencatatnya dengan rapi, karena dengan catatan yang rapi akan membuat saya nyaman untuk mengulang kembali. Saya juga bisa masuk kedalam tipe belajar audio, mendengar. Merangkum pelajaran adalah cara saya untuk mengulang materi, disambili dengan mendengarkan lagu-lagu favorit, membuat saya enjoy belajar dengan alunan musik yang terdengar. Atau, mungkin semua teman kelas saya sudah tahu banget kebiasaan saya saat belajar di kelas. Jika pelajaran itu saya rasa enak, posisi duduk saya selalu berubah, dan terkadang sambil iseng mengerjakan sesuatu yang tidak penting, seperti potong-potong penghapus. Dan jika pelajaran itu bukan hal yang saya suka, saya lebih suka menaruh kepala di atas tangan yang dilipat di atas meja, sambil corat-coret di buku pelajaran. Sedikit menundukkan kepala, dan teman-teman pasti tahu apa yang saya lakukan. Yakk, tidur. Tapi anehnya suara-suara di kelas saat itu masuk ke dalam tidur saya.

Mungkin orang-orang merasa aneh melihat saya begitu menyukai rumus-rumus, seperti matematika. Itu karena banyak hal yang telah saya lewati. Dari pengalaman di bangku kelas 4 SD, hadiah yang diberikan orang tua jika nilai saya bagus, komik, karena saya suka banget itu, dan karena adanya tekanan. Umi saya adalah guru matematika, dan beliau pernah ngomong “malu-maluin dong, masa uminya guru matematika anaknya gak bisa matematika. Umi ngajarin anak orang, masa anak sendiri enggak bisa..” mulai dari situ saya berpikir, “berarti saya harus bisa itu agar tidak malu-maluin umi dong”. Saya tidak “menghapal” semua rumus matematika dan fisika dari A - Z, saya hanya ngertiin “caranya” saja. Itu simple. Kata salah satu guru SMP saya, “rumus itu gak harus dihapal, tapi dimengerti”. Kalau diperdalam, iya ya, matematika gak kejam kok. Mengerjakan Matematika itu menantang. Menantang kesabaran.

Yakk, saya memasuki lingkungan putih-abuabu yang mempunyai dua jalur. IPA or IPS?
IPA, yang saya takuti adalah Biologi. Demi Allah. Karena hanya Biologi yang menggunakan teori full. Selain itu saya juga tidak yakin dengan Kimia.
Masuk IPS? HAHA! Mau nyari mati? Bisa kicep seribu kata nanti. Saya kurang bisa dalam berkata, bersosial. Ya, saya rasakan itu. Dan saya akui, saya pendiam. Yang saya lihat, kakak dan adik-adik saya tidak pendiam, alias banyak ngomong, karena dari kecil hanya saya yang di cap “anak pendiam dan pemalu”, itu saya sadari setelah saya mempelajari ini di sosiologi. Karena cap “pendiam” itu jauh lebih lama, maka banyak kata-kata motivasi dan pendorong yang tidak bisa saya percayai. Terutama “kamu berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin”. Logicanya, mana ada pemimpin pendiam dan pemalu?  Dan mungkin itu yang membuat saya merasa malas untuk bergerak maju.
Ada hal aneh saat baru mengenal SMA. Terutama di SMA saya. Awal masuk, saat pelajaran Sosial, saya merasa enjoy, karena langsung turun ke lapangan, alias melihat lingkungan sekitar. Seperti halnya seorang anak kecil yang baru menemui dunia baru, sepulang dari sekolah saya berbicara kepada umi, “aku ingin masuk IPS. Seru..” tapi umi berkata lain. Saya diarahkan untuk masuk IPA, selain bisa masuk ke fakultas apapun, untuk mengajar privat atau bimbel, guru IPA diperlukan. Mungkin di sisi ini beliau ingin saya menjadi seorang guru sambil kuliah nanti. Lalu pada suatu hari, saat menonton sebuah acara debat di tv, beliau berbicara lagi, bahwa beliau ingin saya menjadi seorang politikus. Bagaimana bisa? Disuruh masuk IPA tapi disuruh jadi politikus juga? Dilain waktu juga, beliau ingin saya menjadi seorang dokter, untuk mengobati orang-orang yang tidak mampu. Oke saya terima, itu adalah pekerjaan yang mulia. Tapi kembali ke topik sebelumnya, bahwa saya takut dengan Biologi, sedangkan dokter sangat lekat dengan Biologi. Mau banting tulang atau bantik otak?
Terkadang saya merasakan tekanan, selalu dipandang bermasalah dalam bersosialisasi oleh orang tua. Saya sendiri kurang terbuka dengan orang tua. Yang orang tua saya tahu saya adalah seorang yang pendiam dan pemalu. Yak saya merasa begitu. Saya terlalu takut membuat mereka kecewa. Menjawab “tidak” pasti dimarahi, menjawab “ya” pada nyatanya tidak sesuai dengan hati. Selalu berhati-hati dalam berkata, saya rasa diam lebih baik. Karena saya sering mengalami ini. Saya berkata datar, disangka marah atau jutek, dan orang tua memarahi saya. Berbicara seperlunya. Orang tua saya sendiri lebih focus kepada adik-adik.
Setiap aura umi yang selalu ingin marah-marah, saya selalu merasa ingin sekolah terus. Tidak ingin pulang. Disekolah walau pelajaran yang sulit namun saya bisa mencari hiburan dengan bermain dengan teman. Dihari libur selalu ingin cepat-cepat masuk sekolah, gak mau libur kalau begitu caranya. Terkadang dalam keadaan sakitpun saya akan paksakan untuk masuk sekolah. Tidak memikirkan apa yang akan saya rasa di sekolah nantinya. Namun kalau suasana rumah sedang membuat saya nyaman, umi yang perhatian kepada anak-anak, abi yang selalu membimbing kami, kakak yang menyayangi adik-adiknya, adik yang menghormati kakak-kakaknya, saya merasa berada di surga dunia. Waktu-waktu langka dalam hidup. Membuat saya enggan dan malas untuk berangkat sekolah. Bahkan saya ingin membuat saya sakit agar saya bisa berada dirumah. Seenak apapun keadaan kelas, teman-teman yang baik, guru-guru yang dengan senang hati selalu mengajari kami, namun keadaan keluarga yang baik membuat saya tidak ingin bergerak dari keluarga.

Dibalik sifat pemalu saya, saya menimpan banyak kenakalan. Kelas 2 SD, saya pernah kabur dari sekolah bersama teman-teman. Kelas 4 SD, punya geng di kelas yang sering bolos sholat ashar di masjid. Kelas 6 SD, tryout pertama kerja sama dengan teman. Saya tidak mencontek dengan teman, namun saya memberikan jawaban lewat isyarat tangan. Suka ilang-ilangan karena sering main ke rumah temen. Kelas 7 SMP, memasuki lingkungan biru-putih, saya memiliki geng lagi. Memberikan contekan kepada teman, dan meminta contekan dari teman. Parahnya itu terjadi sampai kelas 8, bersama orang yang sama. 2 kali ketahun oleh guru MTK saya memberikan contekan. Bahkan saat ujian kenaikan kelas, saya sempat memberikan contekan yang diselipin didalam rautan yang ingin dipinjam teman. Wahh kacau lah saya. kenaikan kelas membuat saya taubat. Tidak ada kata contek-mencontek. Jujur nomor satu dalam ujian. Lebih baik nilai jelek tapi murni dari otak, daripada nilai bagus tapi hasil dari orang lain. Dan memasuki SMA, saya ingin lebih baik lagi. Dikelas 8, pertama kalinya bersama 2 teman bermain ke Jakarta. Yang kedua kalinya bersama 4 teman pergi ke acara Festival Palestine di TIM, Jakarta. Awal debut dunia SMA menapaki kota Jakarta lagi bersama seorang teman untuk ikut aksi # SaveEgypt. Itulah mengapa saya dibilang diam-diam menghanyutkan..

Saya juga berpikir, kenapa kita harus mempelajari banyak pelajaran kalau tujuannya hanya 1?

Kini saya semakin bingung untuk menentukan cita-cita.
Ingin menjadi arsitek,
Ingin menjadi teknikal,
Ingin menjadi programmer,
Ingin menjadi animator,
Ingin menjadi guru,
Ingin menjadi perakit bom,

Saya rasa banyak yang ingin saya lakukan di dunia ini..

Jumat, 07 Februari 2014

왜?

Kami..
Iya, kami, 8 personil kelas X putri di SMAIT Tunas Bangsa.
Kami terdiri dari berbagai karakter yang berbeda, yang sebenarnya tidak mudah untuk disatukan.

Annisa dengan sifatnya yang berenergic, mudah tertawa dan juga mudah tertidur ini memiliki karakter childis. Terkadang ia juga suka menantang, bukan tantangan, tapi menantang peraturan, atau bahasanya adalah ngeyel dari peraturan. Memenuhi nafsu sendiri, lebih membela idola ketimbang aturan agama. Disebalah Annisa ada Asrina yang suka berbicara, dewasa yang membuatku percaya untuk berdiskusi dan berbagi cerita, sanguinis akut, mudah down dalam menghadapi masalah tapi juga mudah untuk bangkit kembali. Kalau ada sesuatu kecil yang membuat ia badmood, badmood itu akan berkepanjangan dan orang lain menjadi sasaran.

Dilain tempat, ada Dini yang masih belum terbaca jelas karakternya. Terkadang saya bingung, ntah apa yang saya bingungkan dari dia. Saya sangat ingin jauh lebih dekat dengannya, Dini. Ada Dini yang pemalu, ada si Salsa yang berenergic seperti Annisa. Saya sendiri bingung untuk mendefinisikan sosok Salsa. Dengan seribu gaya maconya, ada jutaan sifat veminim didalam dirinya. Ia masih merendahkan diri dengan membesarkan kemampuan orang lain dibalik keunggulannya di bidang akademis. saya paling bisa membaca mood Salsa.

Lain lagi dengan Rufaidah, dengan tubuh mungilnya ia adalah salah satu anak yang aktif. Bukan aktif dalam olahraga, tapi organisasi. Keputusan hebat bahwa dia mencalonkan diri menjadi ketua Osis. Ketua Osis pertama SMAIT Nassa. Banyak berbicara, juga dewasa. Bisa menjadi tempat mencari solusi. Hafalan Qur’an terbanyak diantara kami masih belum bisa menghilangkan rasa takutnya terhadap cicak, kadal, ayam, dan semacamnya. Ia adalah sosok yang keras dalam pendirian, serius tapi santai. Dan tingkahnya membuat yang lain ingin tertawa. Ada yang takut ayam, ada juga yang berani dengan ayam, alias pawangnya ayam, yaitu Ziah. Anehnya dia itu takut sama kucing dan ketinggian. Padahal postur badannya paling tinggi. Ziah yang humoris dan ramah menjadikan dirinya mudah diterima oleh orang banyak. Tapi sifat malasnya susah untuk dilawan walaupun ia punya segudang kata-kata motivasi. Lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ziah,membuatku jauh mengenalnya lebih dalam. Bahkan tanpa ia bercerita tentang orang yang ia sukai kepada saya, secara perlahan saya bisa menebak dan itu benar, tepat sasaran. Awalnya ia tidak mau ngaku, tapi setelah saya pastikan bahwa Ziah benar-benar suka, ia menyadari dan mengakuinya. Haha! (Ziah! Kau skakmat dengan ku :p hehe..). tapi ia terlalu mudah menyerah untuk apapun yang ia tidak suka.

Lanjut ke taukhtinya Ziah, Windi.. sosok periang, kadang cekatan dengan suara lantang kadang mudah tertidur juga masih childis. Tapi dibalik itu, ia adalah salah satu anak yang mandiri, tapi terkadang ia tidak percaya diri. Padahal kalau saya lihat, sebenarnya ia bisa saja melawan rasa tidak percaya dirinya itu, kalau rasa malasnya dilawan.

Terkadang saya merasa canggung berada didalam kelas. Padahal kami sudah lewat 6 bulan bersama-sama dan sebelumnya belum ada konflik. Mungkin sekarang saya sudah mengenali sifat-sifat asli mereka. Dan beberapa diantaranya tidak cocok dengan diri saya.

Dalam berteman, saya mempunyai sifat perfectionis, bukan dalam bentuk fisik, tapi sifat dalam diri. Kurang suka dengan yang terlalu kekanak-kanakan, tidak suka yang membosankan tapi juga tidak suka dengan orang-orang yang banyak omong alias berisik. Saya suka yang hobinya seperti diri saya, membaca komik dan berpetualang, bukan yang suka menggunakan uang untuk yang tidak bermanfaat. Saya juga senang berteman dengan orang-orang yang humoris, karena bagi saya, dengan tertawa bisa mengurangi masalah. Selain humoris, yang pemikiran dewasa juga membuatku nyaman, karena darinya saya bisa berintropeksi. Saya kurang suka dengan orang yang berkepribadian ganda. Muna,  alias didepan ngomong "YA" padahal dibelakang dia ngomong "TIDAK". Kurang suka dengan orang yang No Komen dan terlalu cuek atau gak mau mikirin. Saya juga tidak suka dengan orang yang caper (cari perhatian), saya akan bersikap cuek dan tidak peduli kalau tahu bahwa yang orang tersebut lakuin hanya untuk mencari perhatian orang lain (ngapain sih caper, capek kali kalo orang yang anda cari perhatiannya malah gak peka. HAHA) =,=

Ah sudahlah, kenapa harus direpotkan dengan itu, kami hanya butuh berbicara bersama-sama. Mencoba memperbaiki diri masing-masing. Toh, 3 tahun bukan waktu yang lama kan? J mata saya mulai redup karena terlalu lelah, ini sudah memasuki akhir pecan dengan sepekan penuh beraktivitas di sekolah. Mencoba intropeksi diri, mungkin kesalahan atau kecanggungan saya berada dalam diri saya sendiri.
Penulis undur diri, memejamkan mata dan tidur.
Selamat malam kawan, semoga kita tean selamanya.
Karena kami adalah teman.
Wassalamualaikum..

(ym)